Sarkopenia - hilangnya massa dan kekuatan otot secara bertahap seiring bertambahnya usia - adalah salah satu masalah utama dalam umur panjang. Pada usia 80 tahun, rata-rata orang kehilangan 30-50% massa otot yang dimilikinya pada usia 30 tahun. Sementara studi Eropa dan Amerika telah mengidentifikasi puluhan gen yang terkait dengan risiko, para peneliti di Korea menunjukkan sesuatu yang baru: banyak dari apa yang berhasil pada populasi Barat tidak relevan bagi orang Asia. Sekarang mereka menyajikan 4 gen berbeda yang menjelaskan perbedaan tersebut.
Mengapa Genetika Etnis Penting?
Sarkopenia adalah fenomena umum di dunia, tetapi statistik mengungkapkan perbedaan yang menarik:
- Di Korea: 13% populasi di atas 65 tahun menderita sarkopenia.
- Di Jepang: 9-15%, tergantung pada kriteria diagnosis.
- Di AS: 14% lansia di atas 65 tahun, tetapi kriterianya berbeda.
Sebagian perbedaan disebabkan oleh pola makan dan aktivitas fisik. Namun, para peneliti Asia memperhatikan hal lain: Gen yang diidentifikasi dalam studi Barat, seperti varian tertentu dari ACTN3 atau FNDC5, tidak menunjukkan efek yang sama pada populasi Asia. Mengapa?
Studi: GWAS pada 7.500 Pasien
Tim Korea, dari Rumah Sakit Universitas Seoul, merekrut 7.521 pasien di atas usia 60 tahun untuk tinjauan genetik lengkap. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok:
- Sarkopenia terkonfirmasi (kehilangan massa otot + kekuatan genggaman di bawah kriteria Asia).
- Sarkopenia awal (hanya satu kriteria).
- Kelompok kontrol yang sehat.
Semua peserta menjalani SNP genotyping pada sekitar 700.000 varian berbeda, dan analisis GWAS (Genome-Wide Association Study) membandingkan frekuensi setiap varian antar kelompok.
Temuan: 4 Gen yang Tidak Kita Lihat di Barat
Setelah koreksi statistik yang ketat, muncul 4 gen yang menunjukkan asosiasi signifikan dengan sarkopenia - tiga di antaranya tidak dilaporkan dalam studi Barat sebelumnya:
- Gen 1 - ACTN3 (varian Asia): Mengkode protein aktinin-3 di otot. Varian "Barat" R577X sudah lama dikenal, tetapi tim Korea menemukan varian kedua pada gen yang sama yang frekuensinya tinggi hanya di Asia dan memengaruhi massa otot secara berbeda.
- Gen 2 - GHR (Growth Hormone Receptor): Varian yang mengurangi sensitivitas otot terhadap hormon pertumbuhan. Pada orang Korea, varian ini ditemukan pada 23% pasien sarkopenia dibandingkan 11% pada yang sehat.
- Gen 3 - Baru sama sekali: Varian pada kromosom 7 di dekat gen yang terlibat dalam sintesis protein otot (jalur mTOR).
- Gen 4 - Baru sama sekali: Varian pada kromosom 11 yang terkait dengan fungsi mitokondria di otot.
Mengapa Ini Penting?
Selama bertahun-tahun, studi genetik tentang sarkopenia sebagian besar didasarkan pada populasi Eropa dan Amerika kulit putih. Temuan Korea ini menyoroti tiga kebenaran penting:
- Frekuensi varian berbeda secara signifikan antar etnis. Varian yang "tidak ada" pada satu populasi bisa umum pada populasi lain.
- Interaksi gen-makanan tergantung pada makanan lokal. Pola makan Asia yang kaya nasi dan rendah kalsium mengekspresikan gen tertentu secara berbeda dari pola makan Barat.
- Obat yang menargetkan gen ini mungkin lebih efektif pada populasi tertentu.
Implikasi Klinis
Para peneliti mengusulkan protokol baru untuk skrining risiko sarkopenia pada populasi Asia:
- Pengujian SNP pada empat gen yang diidentifikasi, mulai dari usia 50 tahun.
- Penilaian risiko yang disesuaikan secara etnis.
- Intervensi dini pada mereka yang berisiko tinggi: diet kaya protein, latihan resistensi, mungkin juga suplemen kreatin.
- Dalam kasus yang menonjol: pertimbangan suplemen hormon pertumbuhan (di bawah pengawasan medis).
Pesan yang Lebih Luas
Studi ini adalah contoh dari fenomena yang lebih luas dalam pengobatan yang dipersonalisasi: Genetika tidak bersifat universal. Temuan ini terhubung dengan serangkaian studi dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan bahwa:
- Varian APOE yang terkait dengan Alzheimer bervariasi antar populasi.
- Gen metabolisme obat (CYP) memerlukan dosis yang berbeda pada etnis yang berbeda.
- Risiko genetik untuk diabetes tipe 2 sangat berbeda antara orang Barat, Asia, dan Afrika.
Jika sains akan memenuhi janjinya untuk pengobatan yang dipersonalisasi di era anti-penuaan, ia harus bekerja dengan populasi yang beragam, bukan hanya mereka yang berpartisipasi dalam studi. Langkah Korea ini adalah bagian dari koreksi tersebut.
Referensi:
Korea Biomedical Review
💬 תגובות (0)
היו הראשונים להגיב על המאמר.